M Jafar Hafsah

Terkini 31 Mar 2026 10:50 3 min read 20 views By ICMI Orwil kepri

Share berita ini

M Jafar Hafsah
  Mohammad Jafar Hafsah di Mata Sahabat ICMI Orwil Kepulauan Riau Bagi kami di ICMI Orwil Kepulauan Riau, Mohammad Jafar Hafsah bukan sekadar de...

 

Mohammad Jafar Hafsah di Mata Sahabat ICMI Orwil Kepulauan Riau Bagi kami di ICMI Orwil Kepulauan Riau, Mohammad Jafar Hafsah bukan sekadar deretan jabatan. Ia adalah sosok yang menggabungkan keteguhan seorang pejuang, kedalaman seorang intelektual, dan kehangatan seorang sahabat. Lahir di Soppeng, 17 Februari 1949, perjalanan hidupnya ditempa sejak dini. Kehilangan ayahnya, Beddu Seneng, saat berusia sembilan tahun memaksanya belajar mandiri lebih cepat. Sejak mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, ia sudah bekerja untuk membiayai kuliah sambil aktif di berbagai organisasi seperti HMI, Senat Mahasiswa, dan Dewan Mahasiswa. Prestasi akademiknya tetap terjaga; ia bahkan dipercaya menjadi asisten dosen. Karier profesionalnya dimulai di Dolog Sulawesi Selatan pada 1974. Ia kemudian memilih jalur aparatur sipil negara di sektor pertanian — bidang yang ia yakini langsung menyentuh kehidupan rakyat. Perjalanannya di birokrasi berjalan konsisten: dari penyuluh pertanian hingga mencapai eselon I, termasuk sebagai Sekretaris Badan Pengendali Bimas dan puncaknya sebagai Direktur Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan (2002–2005). Ia dikenal sebagai birokrat yang tidak hanya administratif, tetapi juga pemikir lapangan. Pendidikan doktoralnya di Institut Pertanian Bogor bidang Perencanaan Pembangunan Wilayah Pedesaan semakin memperkaya perspektifnya tentang realitas petani dan desa. Pada 2005, setelah hampir tiga dekade di birokrasi, ia memutuskan terjun ke dunia politik dengan menerima amanah di Partai Demokrat (termasuk sebagai Ketua DPP periode 2005–2010). Keputusan ini diambil melalui pertimbangan panjang dan istikharah. Ia kemudian terpilih sebagai anggota DPR RI, menjabat Wakil Ketua Komisi IV (bidang pertanian), Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI, dan kemudian di MPR RI. Di parlemen, ia membawa etos kerja birokrasi: sistematis, berbasis data, dan berorientasi hasil. Di luar birokrasi dan politik, Jafar Hafsah juga aktif di Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Ia menjabat Sekretaris Jenderal periode 2015–2020 dan kemudian Wakil Ketua Umum. Di sini, ia turut merumuskan program dan menjaga agar organisasi tetap relevan sebagai rumah bagi cendekiawan Muslim Indonesia. Yang membuatnya istimewa bukan hanya capaian jabatan, melainkan cara ia menjalani semuanya. Ia produktif menulis buku tentang pertanian, pembangunan, dan kesejahteraan, serta menerbitkan kumpulan puisi seperti *Puisi Hati Sang Birokrat* dan *Senandung Alam* — bukti bahwa di balik ketegasan birokrat ada kepekaan terhadap kehidupan. Di usia yang kini di atas 75 tahun, ia tetap disiplin berolahraga, seperti tenis dan renang, karena baginya menjaga kesehatan adalah bagian dari tanggung jawab. Bagi kami di Kepulauan Riau, kesan terdalam datang dari kehadirannya yang sederhana. Kunjungannya ke Kota Tanjungpinang lebih dari sepuluh tahun lalu masih terasa hingga kini. Bukan karena agenda formalnya, melainkan karena ia hadir tanpa jarak — berbincang seperti sahabat lama, bukan seperti pejabat yang sedang berkunjung. Ia datang bukan sebagai tokoh yang menuntut hormat, melainkan sebagai sahabat yang lebih banyak mendengar daripada berbicara. Diskusi dengannya selalu memberi perspektif baru, tanpa formalitas berlebih. Sikap rendah hati dan kehangatan itulah yang membuat banyak pengurus ICMI Kepri merasa dekat dengannya. Di mata kami, Mohammad Jafar Hafsah adalah contoh bahwa perjalanan panjang dari latar belakang sederhana menuju tanggung jawab besar bisa ditempuh dengan kerja keras, konsistensi, dan integritas. Ia menunjukkan bahwa seseorang bisa sukses tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya — tetap hangat, setia sebagai sahabat, dan terus belajar serta mengabdi. Kehadirannya mengingatkan kami bahwa di balik setiap prestasi, ada manusia yang terus berproses. Di usia 77 tahun, semoga beliau senantiasa sehat, bahagia, dan terus menginspirasi. Itulah yang membuat kami menghormatinya — bukan hanya sebagai tokoh, tetapi juga sebagai sahabat yang tulus.*

infoluarbiasa.online